Permukiman Arab di Hasakah Butuh Bantuan Kemanusiaan Akibat Blokade SDF - Berita Dolok Sanggul

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 07 Februari 2026

Permukiman Arab di Hasakah Butuh Bantuan Kemanusiaan Akibat Blokade SDF


Krisis kemanusiaan kembali mengemuka di wilayah Hasakah dan Qamishli, Suriah timur laut, setelah sejumlah permukiman Arab dilaporkan berada dalam kondisi terblokade. Warga menghadapi keterbatasan serius akses kebutuhan pokok di tengah situasi keamanan yang semakin tegang.

Dalam beberapa hari terakhir, seruan darurat datang dari warga lingkungan Arab, khususnya di wilayah selatan Qamishli. Mereka menyampaikan kondisi yang semakin memburuk akibat pembatasan pergerakan dan terputusnya layanan dasar.

Permukiman seperti Hay Zanoud, Hay Tayy, Hay al-Zuhour, Hay Halko, Hay al-Masarif, kawasan perumahan guru, al-Khalij, hingga Jalan al-Quwatli disebut sebagai wilayah yang paling terdampak. Kawasan-kawasan ini mayoritas dihuni oleh warga Arab.

Warga menyebut bahwa SDF/PKK memberlakukan larangan keluar masuk wilayah secara ketat. Pemberlakuan jam malam membuat aktivitas ekonomi lumpuh total dan warga tidak dapat mencari kebutuhan harian.

Kondisi semakin parah dengan terputusnya pasokan air dan listrik. Dalam cuaca ekstrem, ketiadaan air bersih dan listrik menjadi ancaman langsung bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Selain itu, ketersediaan bahan pangan dilaporkan sangat terbatas. Roti, yang menjadi makanan pokok warga Suriah, hampir tidak dapat diperoleh di banyak lingkungan Arab yang diblokade.

Warga menyebut tidak ada jalur aman untuk distribusi makanan. Toko-toko tutup, kendaraan pasokan tidak diizinkan masuk, dan warga yang mencoba keluar wilayah menghadapi risiko penahanan.

Situasi ini memicu kepanikan dan keputusasaan di kalangan masyarakat. Banyak keluarga mulai kehabisan persediaan makanan dan bergantung pada sisa stok yang semakin menipis.

Dalam pernyataan darurat yang beredar luas, warga lingkungan Arab menyampaikan seruan langsung kepada pemerintah Suriah. Mereka meminta negara hadir dan mengambil tanggung jawab atas keselamatan warganya.

Seruan tersebut menegaskan bahwa warga Arab di kawasan yang dikuasai SDF/PKK merasa terabaikan dan terisolasi. Mereka menganggap pembatasan ini sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap komunitas sipil.

Para tokoh masyarakat setempat memperingatkan bahwa kelanjutan blokade dapat memicu bencana kemanusiaan. Risiko kelaparan dan penyakit dinilai semakin tinggi jika tidak ada intervensi cepat.

Di tengah keterbatasan informasi resmi, warga menyebut bahwa bantuan kemanusiaan belum mampu menjangkau wilayah terdampak. Lembaga kemanusiaan menghadapi hambatan keamanan dan akses di lapangan.

Kondisi ini juga memicu ketegangan sosial antara komunitas Arab dan struktur keamanan yang menguasai wilayah tersebut. Warga menyatakan blokade memperdalam rasa ketidakadilan dan marginalisasi.

Beberapa keluarga dilaporkan mencoba mengungsi ke wilayah lain, namun jalur keluar disebut sangat terbatas. Pergerakan warga diawasi ketat dan seringkali ditolak.

Pengamat lokal menilai situasi di Qamishli mencerminkan rapuhnya pengaturan keamanan pasca-kesepakatan politik. Realitas di lapangan menunjukkan warga sipil tetap menjadi pihak paling rentan.

Tekanan publik kini meningkat agar pemerintah Suriah mengambil langkah konkret. Warga menuntut dibukanya jalur kemanusiaan untuk distribusi makanan, air, dan layanan medis.

Selain Damaskus, seruan juga diarahkan kepada pihak-pihak internasional yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut. Mereka diminta memastikan perlindungan sipil dan penghormatan terhadap prinsip kemanusiaan.

Blokade terhadap permukiman Arab dinilai berpotensi memperluas konflik sosial. Jika dibiarkan, ketegangan ini dapat memicu gelombang protes dan instabilitas yang lebih besar di Suriah timur laut.

Bagi warga di lingkungan-lingkungan terdampak, persoalan ini bukan sekadar politik atau keamanan. Ini adalah soal bertahan hidup di tengah keterbatasan yang semakin mencekik.

Setiap hari tanpa pasokan memperburuk kondisi keluarga-keluarga yang sudah rentan. Anak-anak kehilangan akses gizi, sementara orang sakit kesulitan mendapatkan perawatan.

Krisis di permukiman Arab Hasakah dan Qamishli kini menjadi ujian nyata komitmen semua pihak terhadap perlindungan warga sipil. Tanpa langkah cepat, situasi ini berisiko berubah menjadi tragedi kemanusiaan terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Post Top Ad